Selasa, 03 Oktober 2017

Bolehkah Shalat Tahajud Tanpa Witir? Ini Jawaban Para Ulama!


Anda tentu tahu bahwa shalat tahajud merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat digemari Rasulullah saw. Saking gemarnya, Rasulullah saw. hampir tidak pernah meninggalkan shalat tahajud.

Alih-alih, bahkan dalam kondisi setengah tidur, malas, dan bengkak-bengkak pada kakipun, beliau tetap melaksanakannya. Hal ini sebagai bentuk syukur dan rasa cinta kepada Allah swt. yang telah mengaruniakan berbagai nikmat kepadanya.

Anda mungkin saat ini baru memulai atau bahkan sudah rutin melaksanakan shalat tahajud. Meski demikian, rupanya ada kebingungan dari beberapa kaum muslim perihal kaitan antara shalat tahajud dengan shalat witir.

Pendeknya, kebanyakan menganggap tahajud dan witir adalah dua ibadah yang berbeda, sehingga tidak wajib melaksanakan shalat tahajud disertai shalat witir.

Terlepas dari itu, banyak hadis sahih yang menjelaskan bahwa witir merupakan inti dari shalat tahajud, sehingga janggal rasanya apabila shalat tahajud tidak disertai dengan shalat witir.

Sabda Rasulullah, "Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalat kalian di malam hari." (HR. Bukhari: 406)

Bukan hanya itu, bahkan shalat witir bisa diqada hingga datangnya waktu Subuh, dengan catatan yang bersangkutan belum shalat Subuh (sebagaimana pendapat mayoritas sahabat dan ulama-ulama mazhab).

Lantas, mengapa mesti melaksanakan shalat witir? Sesungguhnya, fungsi dari shalat witir adalah menggenapkan bilangan rakaat shalat tahajud itu sendiri. Hal ini tidak lagi menjadi rahasia umum bahwasanya Allah menyukai bilangan ganjil.

Nabi saw pernah ditanya tentang qiyamullail, maka beliau menjawab, "shalat malam itu dua-dua (rakaatnya). Jika kamu khawatir akan datangnya waktu Subuh, shalatlah satu rakaat saja supaya bilangan rakaatnya ganjil." (HR. Bukhari: 397)

Oleh karena itu, apabila shalat tahajud tidak diakhiri dengan witir, maka jumlah bilangannya akan genap sehingga tidak mendapatkan keutamaan bilangan ganjil yang disukai Allah.

Bahkan, menurut beberapa hadis, shalat witir merupakan istilah lain dari qiyamulail.

Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaknya ia melakukan witir di awal malam. Siapa yang yakin akan bangun di akhir malam, hendaklah ia shalat witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan Allah, dan itu lebih utama." (HR. Muslim: 755)

Di dalam hadis lain, Aisyah ra. berkata, "Rasulullah saw setiap malam melakukan witir hingga datang waktu sahur menjelang fajar." (HR. Bukhari: 966; Muslim:745)

Dua hadis di atas sesungguhnya bukan merujuk pada shalat witir pada pengertian umum, yaitu sebagai pelengkap akhir dalam shalat tahajud. Namun, yang dimaksud witir adalah shalat tahajud itu sendiri. Tidak mungkin bukan Rasulullah saw. melakukan shalat witir hingga waktu sahur apabila yang dikerjakannya hanya satu rakaat saja.

Oleh karena itu, yang dimaksud witir di atas adalah rangkaian shalat dua rakaat dua rakaat yang ditutupi dengan bilangan rakaat ganjil. Inilah yang diistilahkan witir oleh Aisyah ra.

Beranjak dari keterangan-keterangan di atas, dapat kita simpulkan beberapa hal:
  • Shalat tahajud adalah rangkaian shalat yang diawali dengan dua rakaat-dua rakaat, diakhiri dengan rakaat bilangan ganjil. 
  • Fungsi utama shalat witir adalah mengganjilkan bilangan rakaat shalat tahajud, karena Allah menyukai bilangan ganjil.
  • Shalat tahajud yang tidak disertai witir hukumnya boleh. Akan tetapi, tidak mendapat keutamaan bilangan ganjil tersebut serta tidak mengikuti anjuran Rasulullah saw.
  • Shalat tahajud dan shalat witir adalah ibadah yang sangat berkaitan, sehingga terkadang beliau saw.  mengistilahkan witir sebagai pengganti shalat tahajud.
Allahua'lam.