Sabtu, 16 September 2017

Hukum Rokok dalam Pandangan Islam


Kendati semakin marak kampanye anti rokok di Indonesia, ternyata hal tersebut tidak menghambat laju peningkatan jumlah perokok yang kian mengenaskan, terutama di kalangan remaja.

Hebatnya lagi, kini rokok hadir dalam berbagai bentuk seperti kawung, klobot, cerutu, kretek, dan yang terbaru, rokok elektrik atau vape.

Sudah jelas dalam pandangan sosial bahwa pemerintah “mengharamkan” rokok meskipun masih “melegalisasi” penyebarannya. Nah, bagaimana dalam pandangan Islam? Apakah rokok diharamkan juga atau sebaliknya?

Memang persoalan rokok terbilang baru sebab belum ada di zaman Rasulullah saw., juga tidak diterangkan di dalam Quran dan hadis secara spesifik. Tak heran, persoalan rokok masuk dalam fikih kontemporer.

Perihal benda yang mengandung tar dan nikotin ini, ada khilaf di antara para ulama: jumhur mengharamkannya secara mutlak (ulama-ulama empat mazhab), sebagian hanya mengharamkan dalam kondisi tertentu. Ada juga yang sebatas memakruhkan, dan sisanya menghukuminya mubah (Nahdlatul Ulama).

Dalam hal ini, penulis mengamini pendapat pertama.

Kapan suatu perkara bisa dikatakan haram?

Jika kita meneliti lebih jauh perkara-perkara yang diharamkan Allah swt., kita akan mendapati perkara tersebut pada hakikatnya juga memiliki manfaat. Khamr, sebagai contoh.

Apa yang dikatakan Al-Quran tentang khamr?

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya..." (QS. Al Baqarah : 219)

Begitulah, Allah –Azza wa Jalla— pun tidak mengingkari bahwa khamr diciptakan dengan memiliki sejumlah manfaat. Akan tetapi, kerugian yang ditimbulkannya lebih besar sehingga lantas Allah mengharamkannya. Dan ini sudah terbukti dalam medis bahwa khamr di samping memabukkan, ia memang memiliki sejumlah manfaat.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan beberapa manfaat khamr:
  • bermanfaat bagi badan;
  • membantu pencernaan;
  • mengeluarkan sisa-sisa makanan;
  • mempertajam pemikiran; 
  • dan sebagainya

Demikian halnya judi, misalnya mendapat uang, melatih ketangkasan, atau mencukupi kebutuhan keluarga. Serta beberapa perkara lain seperti konsumsi babi, onani, dan berpacaran.

Kembali ke rokok. Adakah “racun” yang satu ini punya manfaat? Menurut LiveScience, rokok tidak memiliki manfaat dalam jangka panjang. Bahkan, rokok menyebabkan kanker, empisema, dan gangguan jantung.

Lebih lengkap, HaloSehat –salah satu situs kesehatan otoritas— telah berhasil mengumpulkan 74 dampak buruk rokok bagi kesehatan, akal, dan mental. Seperti misalnya:
  • meningkatkan stroke
  • menganggu aliran darah
  • menyebabkan penyakit paru-paru
  • bau mulut
  • menurunkan kualitas tidur
  • kerusakan tulang dan gigi
  • penyebab diabetes
  • menganggu kehamilan
  • kanker tenggorokan
  • dan 65 item lainnya...

Sekarang, mari beranjak kemudaratan rokok dari perspektif agama. Islam —yang merupakan satu-satunya agama di sisi Allah— melarang keras siapa saja yang melakukan pemborosan.

Allah swt. berfirman, "Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudara-saudaranya setan." (QS Al-Isra: 26—27)

Menurut statistik BBC, 48 juta perokok di Indonesia rata-rata menghabiskan dua belas batang rokok setiap harinya. Rata-rata harga rokok satu bungkus yang isinya dua belas batang adalah Rp20.000.

Dengan kata lain, perokok-perokok ini menghabiskan Rp600.000 per bulannya. Dikalikan setahun, jumlahnya menjadi Rp7.200.000.

Membeli sebuah barang yang kosong akan manfaat serta mengundang kemudaratan, tidakkah ini termasuk pemborosan? Padahal jika mau ditabung, jumlah segitu —insyaallah— cukup untuk kurban dua kambing atau kurban setengah sapi ketika momen Idul Adha datang.

Jika ogah menyumbang uang untuk urusan keagamaan, tak masalah. Uang segitu bisa dibelikan hape, laptop, baju, atau jajan. Yang jelas, tidak dihambur-hamburkan untuk sekadar membeli rokok.

Allah swt. juga tegas melarang hamba-hambanya untuk membunuh dirinya sendiri. Firman Allah swt., “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.“ (QS. An-Nisa: 29)

Rokok terbukti membunuh penggunanya secara perlahan-lahan lewat zat nikotin serta dukungan empat ribu racun lain yang terkandung di dalam rokok. Tak heran, lebih dari seribu orang meninggal setiap harinya karena merokok.

Bukan hanya itu, asap rokok yang menyebar juga mengandung racun yang lebih berbahaya dibandingkan asap polusi. Ini sama saja kita menyakiti orang lain, bukan?

Sementara hal ini dilarang syariat. Sabda Rasulullah saw., “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Baihaqi, Malik, Hakim)

Nah, yang memiliki manfaat tetapi mudaratnya lebih besar saja diharamkan, bagaimana yang tidak?

Inilah manfaat merokok!

Dari awal, penulis tidak pernah mengatakan bahwasanya rokok tidak memiliki manfaat sama sekali. Faktanya, rokok punya sedikit manfaat dalam jangka pendek bagi orang-orang yang menderita atau cenderung pada penyakit tertentu, meski terkesan “receh” dan dipaksa-paksakan.

Seperti misalnya, klaim bahwa rokok dapat mengurangi kemungkinan penyakit parkinson yang sangat jarang terjadi (< 0,1% dari jumlah penduduk dunia). Bahkan, sampai sekarang masih belum diketahui apa kaitan rokok dengan penyakit parkinson.

Kemudian, rokok juga membantu mengurangi obesitas karena nikotinnya. Akan tetapi, jika nikotin ini dikonsumsi secara berlebihan, bukan badan ideal yang didapat, namun kurus kerontang karena sifatnya yang ekstrem dan merusak.

Rokok juga menurunkan risiko operasi sendi lutut. Mengapa? Karena para perokok umumnya jarang jogging atau berolahraga keras, sementara operasi penggantian sendi lutut sendiri terjadi jika kita banyak melakukan aktivitas yang melibatkan kaki dan lutut.

Terakhir, perokok yang mendapat serangan jantung juga memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan non perokok yang mendapat serangan.

Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, hal ini dikarenakan orang yang merokok lebih cepat mendapatkan serangan jantung daripada non perokok, sehingga umur perokok serangan jantung sepuluh tahun lebih muda daripada non perokok.

Tak heran hidupnya lebih lama, sebab umurnya memang lebih muda.

Maka dari itu, jelaslah bahwa hukum rokok adalah haram karena kemudaratannya. Adapun bila ada manfaatnya, tidak akan pernah sebanding dengan dampak buruknya bagi kesehatan, terlebih agama. Allahu’alam.