Selasa, 16 Mei 2017

Setan-Setan Dirantai, Kok Masih Ada Maksiat di Bulan Ramadhan?


Para pembaca yang dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan istimewa karena di dalamnya pahala kebajikan diganjar berlipat-lipat dari bulan biasa. Maka dari itu, sudah sepantasnya bulan Ramadhan dijadikan sebagai waktu berburu amal kebaikan sebanyak-banyaknya.

Banyak sekali fadhilah (keutamaan) bulan Ramadhan. Di antara keutamaan yang paling dahsyat adalah dibukakannya pintu-pintu kebaikan, ditutupnya pintu-pintu keburukan, serta dibelenggunya setan-setan. Sabda Rasulullah Saw, "Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu" (HR: Bukhari 3277 dan Muslim 1079).

Meski demikian, perihal poin terakhir --dibelenggunya setan-- sering jadi kontroversi --baik di kalangan muslim maupun nonmuslim-- yaitu mengapa masih ada orang-orang yang berbuat maksiat di bulan tersebut sementara setan-setan yang menjadi kunci perbuatan jahat manusia sudah kehilangan eksistensi?

Berangkat dari situ, muncullah berbagai pertanyaan yang tidak didasari ilmu: apakah Rasulullah Saw. berbohong? Apakah hadis di atas daif?

Pertama, mohon digarisbawahi bahwa sabda Rasulullah Saw. tidak lain datangnya dari Allah Swt. Maka dari itu, tidak mungkin Allah salah. Allah Swt. memiliki sifat Mahatahu (Al-Alim) termasuk sesuatu yang bersifat gaib (QS Albaqarah: 29), sedangkan kita tidak tahu. Kita adalah makhluk lemah yang memiliki keterbatasan dalam berpikir.

Kedua, hadis di atas adalah sahih karena periwayatnya adalah duo ahli hadis terkemuka, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Terutama Bukhari, kita tahu bahwa beliau sangat telaten saat memeriksa kesahihan hadis-hadis yang dikumpulkannya. Bahkan, beliau enggan memaktubkan sebuah hadis ke dalam kitab belia u--Sahih Bukhari-- sebelum melakukan salat istikharah yang panjang.

Jadi, ketika menemukan hadis sahih terdapat kejanggalan, camkan ini, "Pikiran saya salah... ilmu saya terbatas." Husnuzon kepada hadis, suuzon kepada diri sendiri.

Sesudah Anda memahami dua hal di atas, sekarang kita kembali ke topik: mengapa masih ada maksiat di bulan Ramadhan sementara setan-setan sudah dibelenggu? Setelah mengumpulkan berbagai pendapat, penulis mendapatkan enam pendapat terpopuler di kalangan ulama. Di bawah ini dijabarkan keenam pendapat tersebut.

Ini Pendapat Para Ulama Tentang Makna "Setan-Setan Dibelenggu"


1. Hanya Mengurangi Efek

Pendapat pertama dan merupakan kebanyakan pegangan para ulama adalah hanya mengurangi efek. Hanya mengurangi efek berarti setan-setan masih dapat mengganggu manusia kendati tidak sebebas ketika dirinya merdeka. Ini adalah pendapat yang dipegang Qadhi Iyadh dan para ulama Malikiyah.

Dalam Syarh Muwatha, Imam Albaji menyatakan, "Setan dibelenggu bisa dipahami bahwa itu bermakna zahir (tekstual). Sehingga dia terhalangi untuk melakukan sejumlah perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukanlah dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau gangguan lainnya."

2. Setan Bukan Satu-Satunya Sumber Maksiat

Kasus pemerkosaan sebagai bukti kejahatan yang didukung hawa nafsu manusia.
Pendapat kedua adalah yang memahami bahwa setan telah hilang eksistensinya di bulan Ramadhan. Sehingga terjadinya maksiat bukan lagi disebabkan perbuatan setan; namun hawa nafsu manusia.

Imam As Sindi ketika membuat catatan untuk An Nasai, menyatakan bahwa "setan dibelenggu" bukan berarti menghilangkan segala bentuk kemaksiatan. Hal ini (maksiat) terjadi karena adanya pengaruh jiwa yang buruk (hawa nafsu). "Kalau semua maksiat datangnya dari setan, berarti ada setan dari setan, dan dari setan itu ada setan lagi, dan seterusnya," ujarnya.

3. Manusia Sudah Berlangganan Dosa

Seperti yang Anda ketahui, dalam satu tahun, hanya sebulan di antaranya adalah bulan Ramadhan. Itu artinya, setan-setan merdeka selama sebelas bulan lamanya. Selama dalam keadaan merdeka tersebut, mereka menggencarkan misinya agar manusia bertindak asusila dan aniaya. Misalnya, menggoda manusia untuk berbuat zina, mabuk, narkoba, meninggalkan salat, gibah, dan lain-lain.

Saking seringnya terbujuk akan rayuan setan, kita jadi senantiasa melakukan perbuatan tersebut sehingga terbentuklah sebuah kebiasaan. Ibaratnya, ibu Anda menyuruh agar selalu merapikan kasur setelah tidur. Lama kelamaan, Anda akan merapikan kasur sendiri tanpa mesti disuruh lagi, bukan? Begitu pula maksiat. Ketika Anda terlalu sering terbujuk rayuan setan, maka di bulan Ramadhan pun Anda akan tetap melakukannya meski tanpa kehadiran setan. Hal ini tidak lain karena perbuatan buruk tersebut telah menjadi kebiasaan.
Sebenarnya, analogi di atas kurang tepat. Anda bisa saja tidak merapikan kasur ketika ibu Anda tidak melihat. Alasannya malas, tidak peduli, atau merasa tidak perlu. Namun lain dengan maksiat. Maksiat biasanya merupakan sesuatu yang menyenangkan sehingga peluang untuk dikerjakan kembali sangat kuat, apalagi untuk orang-orang yang imannya lemah.

4. Tidak Semua Setan Dibelenggu

Ini merupakan pendapat sebagian ulama. Menurut pendapat ini, makna "setan-setan dibelenggu" hanya berlaku bagi setan-setan kelas kakap (maradatul jin), sementara setan-setan lemah dibiarkan bebas berkeliaran (Syabakah Islamiyah no. 40990). Setan-setan inilah yang menjadi dalang perbuatan jahat manusia di bulan Ramadhan.

5. Hanya Berlaku untuk Orang-Orang yang Menjalankan Puasa

Anugerah dibelenggunya setan hanya dapat dirasakan bagi mereka yang beriman serta menjalankan ibadah shaum sesuai tuntunan yang berlaku. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan munafik tidak akan mendapatkan keutamaan tersebut sehingga derajat kemaksiatannya sama saja dengan bulan-bulan biasa.

6. Setan-Setan Dibelenggu Adalah Kiasan

Ada pula segelintir ulama yang memaknai "setan-setan dibelenggu" sebagai kiasan (majaz), yang berarti bukan dibelenggu secara hakiki. Hal ini karena saking mulia, berkah, dan banyaknya ampunan yang diberikana Allah Swt. pada bulan tersebut sehingga setan-setan serasa dibelenggu. Dengan demikian, efek-efek godaan setan menjadi tidak ada. Upaya mereka menyesatkan manusia pun menjadi sia-sia (Imam Albaji dalam Syarh Muthawa).

Menurut Qadi Iyad, seorang pakar tafsir pada zamannya, hadis di atas bisa mempunyai dua makna. "Terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu nereka dan terbelenggunya setan-setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan dan (menunjukkan) mulianya bulan tersebut," terangnya.

Ia melanjutkan, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti berpuasa dan mengerjakan salat malam. Berbeda dengan bulan lain, di bulan Ramadhan orang akan lebih sibuk melakukan kebajikan daripada melakukan kemaksiatan. Sementara, tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”

Jawaban Dr. Zakir Naik

Selain Qadi Iyad dan Imam Albaji, sebenarnya masih ada satu ulama kontemporer yang juga menyetujui pendapat pertama, kedua, dan ketiga. Ialah Zakir Abdul Karim Naik a.k.a Dr. Zakir Naik.

Dr. Zakir Naik ketika ditanya seorang presenter pada sesi tanya jawab terkait permasalahan maksiat di bulan Ramadhan, ia memberikan sebuah analogi sederhana. Seekor singa yang bebas berkeliaran memiliki peluang besar untuk membunuh, tentunya dalam kondisi ini seseorang dalam bahaya. Akan tetapi, saat singa tersebut dirantai, kita akan aman selama menjaga jarak. Namun, tetap saja ketika kita nekat mendekati singa yang telah dirantai, kita pun akan dibunuhnya.

"Hal yang sama juga berlaku di bulan Ramadhan. Jika Anda menjaga jarak dari setan, Anda akan aman," terangnya. Dengan kata lain, setan-setan yang dirantai bukan berarti telah dibunuh, namun memiliki kekuatan yang berkurang. Dalam analogi di atas, kondisi singa yang bebas berkeliaran adalah bulan-bulan biasa. Sementara itu, singa yang dirantai adalah kondisi pada bulan Ramadhan.