Jumat, 25 November 2016

Ghadul Bashar: Memandang yang Diharamkan


Satu di antara fitnah terbesar di dunia ini adalah wanita. Tak heran, banyak kaum Adam yang terjerumus dalam api neraka lantaran tertipu akan fitnah yang satu ini. Agar hal itu tidak terjadi pada Anda, Anda perlu menjaga pandangan. Allah Swt. berfirman dalam kitabnya,

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Al-Nur [24]: 30)

Menjaga pandangan dalam ilmu fikih dinamakan ghadul bashar. Bukan hanya urusan wanita, ghadul bashar merupakan ilmu yang mempelajari hukum menjaga pandangan dalam konteks yang luas dan perinci. Di postingan ini Anda akan mempelajari ghadul bashar dari memandang yang diharamkan, antara lain sebagai berikut.

1. Memandang wanita yang bukan mahramnya

Memandang wanita yang bukan mahram merupakan perbuatan maksiat dan akan mendapat dosa. Hal ini telah menjadi ijmak (kesepakatan) di kalangan ulama; tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, dengan salah satu syariatnya adalah Quran surat Al-Nur ayat 30--31 yang telah dijabarkan barusan.

Ada dua jenis dari memandang wanita yang bukan mahram, yakni memandang yang dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja. Bagaimana jika kita berada di posisi yang kedua? Apakah ikut mendapat dosa? Jawabannya bisa tidak bisa ya. Tidak, jika Anda berhenti pada pandangan pertama. Ya, jika Anda melanjutkan ke pandangan kedua.

Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan pertama (tidak dapat dielakkan) dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir."

Jangan salah kaprah dengan maksud dari pandangan pertama. Ada cerita lucu terkait persoalan ini. Pernah ada seorang muslim yang memandang wanita dalam waktu yang lama. Seorang sahabat pun menegurnya dengan mengutip salah satu sabda Rasulullah Saw., "Pandangan pertama dimaafkan dan yang kedua dilarang." Sambil melanjutkan pandangannya, dengan entang sahabat itu menjawab, "Aku belum menyelesaikan pandangan pertamaku."

Pandangan pertama yang dimaksud adalah pandangan sekilas yang kita tidak dapat menghindar darinya, bukan pandangan yang dibuat-buat atau dilangsungkan dalam waktu yang lama. Jika kita tidak berhenti dari memandang wanita, maka kita masuk dalam kategori sengaja dan akan mendapat dosa.

2. Memandang pria bukan mahram

Jika memandang perempuan bagi laki-laki diharamkan, maka bagi perempuan memandang laki-laki yang bukan mahramnya termasuk diharamkan pula. Allah Swt. berfirman,

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Al-Nur: 31)

3. Melihat perbuatan haram yang dilakukan orang lain

Setiap mukalaf dilarang melihat perbuatan haram yang dilakukan orang lain, kecuali dengan maksud mengingkari dan semisalnya. Setiap orang mukalaf dilarang melihat pemerintah yang zalim; orang-orang yang menyombongkan diri dengan perhiasan mereka disertai para istri dan anak perempuan mereka yang memperlihatkan aurat dan tubuh mereka.

Termasuk diharamkan pula melihat orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam kezaliman tersebut, misalnya para hakim, gubernur, bahkan para ulama sekalipun yang mendekat kepada penguasa zalim, menjilat, atau tidak mau bersuara ketika melihat kezaliman mereka.

Demikian pula diharamkan melihat para peminun arak jika disertai kerelaan atas apa yang mereka perbuat. Diharamkan pula melihat pasangan yang tengah berpacaran-mesra, kecuali dengan niat hendak menegur perbuatan mereka.

4. Melihat aurat orang lain

Di antara hal yang kita harus menundukkan pandangan darinya adalah memandang aurat orang lain, baik yang disertai syahwat maupun tidak; baik yang akan terjadi fitnah maupun tidak; baik sesama jenis maupun lawan jenis.

Sabda Rasulullah Saw., "Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian." (HR: Muslim)

Aurat perempuan yang tidak boleh dilihat laki-laki yaitu seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Sedangkan aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat oleh perempuan yaitu dari pusar hingga lutut.

Sedang aurat perempuan yang tidak boleh dilihat perempuan lain dan aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat laki-laki lain ialah dari pusar hingga lutut, sebagaimana diterangkan dalam hadis nabi. Sementara itu, Ibnu Hazm dan sebagian ulama Maliki berpandapat bahwasanya paha tidak termasuk aurat.

Diakui maupun tidak, menjaga pandangan dari memandang yang diharamkan merupakan persoalan yang sangat sulit. Lebih-lebih di era modern sekarang ini di mana konten-konten yang bersifat "menjual diri" bertebaran serta dapat diakses dengan sentuhan jari. Oleh sebab itu, menjaga pandangan dari sesuatu yang diharamkan merupakan salah satu bentuk jihad dan akan menaikkan derajat kita di sisi Allah Swt. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat keutaam tersebut.