Minggu, 25 September 2016

Syarat, Adab, dan Tata Cara Melakukan Salat Istisqa; Salat Meminta Hujan


Hujan adalah salah satu sumber penghidupan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi. Misalnya, petani menyandarkan hidupnya pada air hujan untuk mengaliri sawah-sawahnya. Namun di sejumlah daerah--terlebih di Indonesia--sering kali mengalami masa panceklik di mana hujan tidak kunjung turun dalam waktu yang sangat lama.

Hujan sendiri merupakan berkah. Dengan adanya hujan, suasana menjadi lebih segar apalagi seperti di Indonesia yang memiliki iklim tropis, hujan seringkali di nanti-nanti bukan hanya untuk keperluan sehari-hari, melainkan juga untuk mendinginkan suasana.

Lantas bagaimana jika hujan tidak turun? Jawabannya bukanlah memanggil dukun, bisikan "orang pintar", atau apapun yang lain, melainkan melakukan salat istisqa
.
Salat istisqa termasuk ibadah sunah. Ibadah ini hanya boleh dilakukan dengan kondisi-kondisi tertentu. Kondisi-kondisi ini antara lain adalah sebagai berikut.
  • Tidak turun hujan dalam waktu yang sangat lama;
  • Sumber mata air yang biasa digunakan mulai atau sudah mengering akibat tidak turunnya hujan.
Jika kondisi ini terpenuhi, salat istisqa sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Sebaliknya, salat istisqa tidak boleh dilakukan jika sudah ada tanda-tanda mulai turun hujan atau ketika sumber air yang mengering mulai menunjukkan tanda-tanda aliran air kembali.

Untuk melakukan salat istisqa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berupa adab dan tata cara dari salat istisqa itu sendiri. Jangan khawatir jika Anda belum tahu keduanya. Di bawah ini penjelasan singkat mengenai adab dan tata-cara salat istisqa.

Adab-Adab Salat Istisqa

Sama halnya dengan ibadah lain, salat istisqa hendaknya memerhatikan adab-adab. Adab-adab ini penting untuk memaksimalkan terkabulnya tujuan utama kita saat menunaikan salat istisqa yaitu meminta Allah agar menurunkan hujan yang penuh berkah.

Di antara adab-adab saat menunaikan salat istisqa adalah sebagai berikut.

Pertama, salat istisqa dapat dilakukan secara berjemaah maupun sendirian. Hal ini dikarenakan Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah melakukan dua cara salat tersebut.

Kedua, salat istisqa dilakukan di tanah lapang, kecuali ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan salat dilaksanakan di tempat selain itu. Salat hendaknya dilakukan secara khusyuk, dan tiga hari sebelum pelaksanaan salat, hendaknya meninggalkan segala perbuatan buruk maupun makruh yang dapat menghalangi dikabulkannya permintaan seorang hamba kepada Pencipta-nya.

Ketiga, salat istisqa lazim dilakukan pada setiap saat; baik itu pagi, siang, sore, malam, atau waktu-waktu lainnya. Akan tetapi, dilarang melakukan salat istisqa pada waktu-waktu terlarangnya melakukan salat sunah. Misalnya, melakukan salat istisqa sementara belum menggugurkan ibadah wajib seperti salat zuhur, membayar fitrah, maupun ibadah fardu lainnya.

Keempat, salat istisqa lebih utama dilakukan saat matahari mulai terlihat di atas langit. Selain itu, dilarang melakukan salat apabila mulai ada tanda-tanda munculnya hujan yang siap membanjiri negeri.

Tata Cara Salat Istisqa
  1. Salat dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Sebagaimana salat ied, pada rakaat pertama mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali sedangkan pada rakaat kedua takbir sebanyak lima kali. Pada tiap-tiap takbir tersebut membaca subhanallah-walhamdulillah-walailahaillallah-wallahuakbar.
  2. Setelah takbir selesai, dilanjutkan dengan membaca surat Alfatihah serta surat-surat pendek. Jika melaksanakan salat secara berjemaah, kita cukup menyimak bacaan imam saja. Sebaliknya, jika kita melakukannya secara munfarid, disunahkan membaca surat-surat pendek. Di antara surat-surat yang dianjurkan dilantunkan ketika salat istisqa adalah Al-A'la pada rakaat pertama dan Al-Ghasyiyah pada rokaat kedua.
  3. Usai melaksanakan salat istisqa, diteruskan dengan khutbah sebanyak dua sesi (jika salat dilaksanakan berjemaah), sembari memperbanyak doa dan istighfar.
Itulah ulasan terkait syarat, adab, dan tata-cara melakukan salat istisqa. Semoga Allah swt. dengan kuasanya mengarunia hujan yang penuh berkah kepada kita di kala mengalami masa panceklik atau keadaan pelik lainnya.