Jumat, 13 Oktober 2017

Hukum Oral Seks dalam Pandangan Islam, Bolehkah?


Ketika sudah menikah, suami tentu berhak mendapatkan keluasaan lebih terhadap istrinya. Dalam hal ini, suami dapat menggauli istri tanpa takut adanya azab dari Allah Swt., karena hukumnya menjadi halal bahkan termasuk sunah. Dalam hadis sahih riwayat Tirmizi, Rasulullah saw. mengupas beberapa sunah para Rasul; satu di antaranya adalah berkasih sayang.

Bahkan, seorang istri yang baik berkewajiban untuk menuruti kemauan sang suami. Suami pun berhak marah atau memukul-mukul istri dengan pelan, bilamana istri menolak diajak berkasih sayang. Sabda Rasulullah saw.,

"Apabila seorang suami mengajak istrinya (untuk hubungan intim), kemudian si istri menolak, lalu si suami marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya sampai Subuh." (HR. Bukhari-Muslim)

Berbicara hubungan intim, bagaimana hukum oral seks menurut syariat Islam? 

Menurut pendapat yang paling kuat, hukumnya adalah mubah karena tidak ada larangan yang tegas perihal oral seks. Dalam ajaran Islam pada poin ini pun, suami bebas melancarkan berbagai atraksi terhadap istri, dan adalah kewajiban seorang istri untuk menuruti cumbuan-cumbuan suami tersebut.

"Istri-istrimu (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (QS. Al-Baqarah : 223)

Ibnu Abbas ra. menjabarkan maksud ayat ini adalah berhubungan intim dengan cara berdiri, duduk, berhadap-hadapan atau membelakangi. Hukumnya boleh selama tidak ada uzur seperti istri tidak menyanggupi atau hal lainnya.

Termasuk dalam hal ini dibolehkan bagi suami ataupun istri untuk meminta dimasturbasi dengan bantuan tangan ataupun mulut, selama yang melakukan bukan dirinya sendiri.

Wanita memang wajib menuruti kemauan sang suami. Kendati demikian, Islam tetap membatasi beberapa hal terhadap suami, salah satunya untuk tidak melakukan hubungan intim melalui dubur, karena hal itu menyakitkan dan menyiksa istri. "Terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya dari duburnya." (Sunan Abu Dawud, no.1847).

Selain itu, suami juga berkewajiban menggauli istrinya dengan baik. “Dan bergaullah dengan mereka (para wanita) dengan baik”. (QS. An-Nisa’ : 19)

Bagi sebagian orang, oral seks mungkin terdengar menjijikkan, mengerikan, atau tidak pantas. Namun seperti yang dikatakan Muhammad Salah, ketika menyangkut halal dan haram, maka kita wajib mengambil referensi dari Al-Quran dan hadis. 

Dan sebagaimana disampaikan di atas, baik Quran maupun as-sunnah tidak mengatakan hal ini sebagai haram, sehingga hukumnya mubah sepanjang bebas dari uzur yang menghalangi perbuatan tersebut.

Selasa, 03 Oktober 2017

Bolehkah Shalat Tahajud Tanpa Witir? Ini Jawaban Para Ulama!


Anda tentu tahu bahwa shalat tahajud merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat digemari Rasulullah saw. Saking gemarnya, Rasulullah saw. hampir tidak pernah meninggalkan shalat tahajud.

Alih-alih, bahkan dalam kondisi setengah tidur, malas, dan bengkak-bengkak pada kakipun, beliau tetap melaksanakannya. Hal ini sebagai bentuk syukur dan rasa cinta kepada Allah swt. yang telah mengaruniakan berbagai nikmat kepadanya.

Anda mungkin saat ini baru memulai atau bahkan sudah rutin melaksanakan shalat tahajud. Meski demikian, rupanya ada kebingungan dari beberapa kaum muslim perihal kaitan antara shalat tahajud dengan shalat witir.

Pendeknya, kebanyakan menganggap tahajud dan witir adalah dua ibadah yang berbeda, sehingga tidak wajib melaksanakan shalat tahajud disertai shalat witir.

Terlepas dari itu, banyak hadis sahih yang menjelaskan bahwa witir merupakan inti dari shalat tahajud, sehingga janggal rasanya apabila shalat tahajud tidak disertai dengan shalat witir.

Sabda Rasulullah, "Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalat kalian di malam hari." (HR. Bukhari: 406)

Bukan hanya itu, bahkan shalat witir bisa diqada hingga datangnya waktu Subuh, dengan catatan yang bersangkutan belum shalat Subuh (sebagaimana pendapat mayoritas sahabat dan ulama-ulama mazhab).

Lantas, mengapa mesti melaksanakan shalat witir? Sesungguhnya, fungsi dari shalat witir adalah menggenapkan bilangan rakaat shalat tahajud itu sendiri. Hal ini tidak lagi menjadi rahasia umum bahwasanya Allah menyukai bilangan ganjil.

Nabi saw pernah ditanya tentang qiyamullail, maka beliau menjawab, "shalat malam itu dua-dua (rakaatnya). Jika kamu khawatir akan datangnya waktu Subuh, shalatlah satu rakaat saja supaya bilangan rakaatnya ganjil." (HR. Bukhari: 397)

Oleh karena itu, apabila shalat tahajud tidak diakhiri dengan witir, maka jumlah bilangannya akan genap sehingga tidak mendapatkan keutamaan bilangan ganjil yang disukai Allah.

Bahkan, menurut beberapa hadis, shalat witir merupakan istilah lain dari qiyamulail.

Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaknya ia melakukan witir di awal malam. Siapa yang yakin akan bangun di akhir malam, hendaklah ia shalat witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan Allah, dan itu lebih utama." (HR. Muslim: 755)

Di dalam hadis lain, Aisyah ra. berkata, "Rasulullah saw setiap malam melakukan witir hingga datang waktu sahur menjelang fajar." (HR. Bukhari: 966; Muslim:745)

Dua hadis di atas sesungguhnya bukan merujuk pada shalat witir pada pengertian umum, yaitu sebagai pelengkap akhir dalam shalat tahajud. Namun, yang dimaksud witir adalah shalat tahajud itu sendiri. Tidak mungkin bukan Rasulullah saw. melakukan shalat witir hingga waktu sahur apabila yang dikerjakannya hanya satu rakaat saja.

Oleh karena itu, yang dimaksud witir di atas adalah rangkaian shalat dua rakaat dua rakaat yang ditutupi dengan bilangan rakaat ganjil. Inilah yang diistilahkan witir oleh Aisyah ra.

Beranjak dari keterangan-keterangan di atas, dapat kita simpulkan beberapa hal:
  • Shalat tahajud adalah rangkaian shalat yang diawali dengan dua rakaat-dua rakaat, diakhiri dengan rakaat bilangan ganjil. 
  • Fungsi utama shalat witir adalah mengganjilkan bilangan rakaat shalat tahajud, karena Allah menyukai bilangan ganjil.
  • Shalat tahajud yang tidak disertai witir hukumnya boleh. Akan tetapi, tidak mendapat keutamaan bilangan ganjil tersebut serta tidak mengikuti anjuran Rasulullah saw.
  • Shalat tahajud dan shalat witir adalah ibadah yang sangat berkaitan, sehingga terkadang beliau saw.  mengistilahkan witir sebagai pengganti shalat tahajud.
Allahua'lam.

Sabtu, 23 September 2017

3 Penyakit yang Diderita Umat Islam Saat Ini


Tidak hanya penyakit jasmani yang diderita manusia. Manusia juga mempunyai penyakit ruhani. Terlebih penyakit ini banyak sekali menimpa umat Islam tanpa kita sadari. Seiring bergantinya zaman, semakin banyak dan berkembang pula penyakit-penyakit ruhani yang menimpa umat ini.

Umat islam, khususnya umat Rasulullah saw. adalah umat terbaik jika dibandingkan umat sebelumnya. Namun, di sini bisa kita bedakan kualitas umat pada masa Rasulullah saw. masih hidup dan pada saat beliau wafat. Jelas sangat berbeda, karena ketika Rasulullah saw. wafat muncul banyak sekali fitnah dunia, dan fitnah yang terbesar yaitu fitnah akhir zaman.

Bahkan penyakit ini sudah ada sejak umat-umat terdahulu. Semua penyakit yang diderita umat Islam terdahulu mengacu pada kecintaan kepada al-wahn (cinta dunia dan takut mati). Karena wahn tersebut yang menyebabkan umat Islam terpecah belah dan hingga saat ini banyak yang telah meninggalkan ajaran Islam yang lurus.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. menjelaskan tentang penyakit umat Islam.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, "aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, 'Umatku akan terjangkit penyakit umat-umat terdahulu' maka mereka bertanya, 'wahai Rasulullah, apa saja penyakit-penyakit umat terdahulu itu?' Rasulullah saw. menjawab, 'Terlalu sombong, kufur nikmat, berlebihan saat mendapat nikmat, menumpuk harta dan berlebih-lebihan dalam masalah dunia, saling membenci, saling dengki-mendengki sehingga ia menjadi orang yang melampaui batas' (HR. Al-Hakim).

Penyakit-penyakit umat terdahulu yang disebutkan Rasulullah saw. di atas telah banyak juga kita jumpai pada zaman sekarang ini. Tidak hanya itu, banyak penyakit-penyakit umat Islam saat ini yang telah berkembang lebih jauh lagi.

Berikut adalah beberapa penyakit yang menimpa umat Islam saat ini.

1. Sekulerisme

Sekulerisme adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah badan atau negara harus berdiri terpisah dari agama. Sederhananya, sekulerisme adalah pemikiran yang memisahkan agama dari semua urusan kehidupan.

Umat Islam saat ini sedang dihadapi oleh berbagai macam perang pemikiran dengan taktik-taktik yang tidak buruk juga. Orang-orang yang ingin menghancurkan umat Islam telah mendoktrin umat Islam agar menjauhkan segala urusan agamanya dengan urusan dunia.

Sekarang dapat kita lihat banyak sekali perilaku kebarat-baratan yang menjangkit pemuda muslim saat ini. Ini adalah salah satu cara paling jitu untuk menjatuhkan umat Islam. Dan perilaku tersebut membuat kita jauh dari agama kita sendiri, menurunkan tingkat keimanan kita, dan pada akhirnya menghancurkan umat Islam.

2. Pluralisme

Secara garis besar, pluralisme adalah paham yang menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat banyak dan tidak tunggal. Dengan kata lain, yaitu terjadinya banyak perbedaan pendapat di dalam Islam. Penyakit yang kedua ini yang menyebabkan umat Islam terpecah belah pada saat ini.

Banyak muncul paham-paham Islam yang baru, hal tersebut menyebabkan banyak aliran-aliran sesat dan tidak sejalan. Banyak aliran yang saling mencaci, merendahkan satu sama lain, dan tidak saling hormat. Toh, kalau kita menjauhkan paham pluralisme ini dan lebih mengutamakan persatuan, pasti umat Islam tidak ada yang mencaci satu sama lain.

3. Liberalisme

Liberalisme ini adalah penyakit lain yang tidak kalah bahaya. Liberalisme ada banyak macamnya, seperti politik liberal, ekonomi liberal, dan demokrasi liberal. Meski demikian, yang menjadi fokus di sini adalah Islam liberal.

Liberal secara sederhana berarti bebas. Paham Islam liberal ini yang dapat mendorong kita untuk bebas dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam agar Islam dapat menyatu dengan budaya modern. Pemuda-pemuda muslim zaman sekarang banyak yang di doktrin oleh budaya-budaya barat yang menyebabkan pemikiran mereka terhadap Islam menjadi salah.

Orang-orang liberal lebih suka berpikir dengan logis ketimbang meyakini sesuatu yang tidak pasti. "Kalau kita buang hajat, kan yang terkena najis hanya kemaluan saja. Kenapa kita harus berwudhu, sedangkan berwudhu tidak membersihkan kemaluan?" pertanyaan seperti itu yang mesti kita buang jauh-jauh.

Sebab, ketika kita berpegang kepada sebuah agama, maka berpegang teguhlah. Jangan setengah-setengah. Di dalam agama Islam, ada sejumlah ajaran yang tidak bisa kita renungkan secara logika. Seperti misalnya, hukum sunnah membunuh cicak.

Oleh sebab itu, jangan pedulikan jika ada yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan liberal semacam ini. Jika disuruh menjawab, jawablah sebagaimana para sahabat menjawab, Allahu wa rasululuhu 'alam "Allah dan rasulnya lebih tahu."

Penutup

Tiga penyakit modern di atas adalah bukti nyata bahwa kita umat Islam harus senantiasa menjaga akidah kita dari hal-hal yang membuat keyakinan kita tergoyah. Kita sebagai umat Islam hanya perlu meyakini bahwa agama yang dibawa, dan disampaikan oleh Rasulullah adalah benar sepenuhnya.

Rasulullah adalah utusan terbaiknya Allah swt. yang berhasil mencetak generasi-generasi platinum di muka bumi ini. Hilangkan semua perbedaan yang ada, bersatulah menjunjung tinggi kalimat tauhid, dan teruslah berusaha menjadi pribadi yang terbaik. Kelak akan mendapatkan ganjaran yang setimpal di akhirat.

Wallahua'lam. 

Sabtu, 16 September 2017

Hukum Rokok dalam Pandangan Islam


Kendati semakin marak kampanye anti rokok di Indonesia, ternyata hal tersebut tidak menghambat laju peningkatan jumlah perokok yang kian mengenaskan, terutama di kalangan remaja.

Hebatnya lagi, kini rokok hadir dalam berbagai bentuk seperti kawung, klobot, cerutu, kretek, dan yang terbaru, rokok elektrik atau vape.

Sudah jelas dalam pandangan sosial bahwa pemerintah “mengharamkan” rokok meskipun masih “melegalisasi” penyebarannya. Nah, bagaimana dalam pandangan Islam? Apakah rokok diharamkan juga atau sebaliknya?

Memang persoalan rokok terbilang baru sebab belum ada di zaman Rasulullah saw., juga tidak diterangkan di dalam Quran dan hadis secara spesifik. Tak heran, persoalan rokok masuk dalam fikih kontemporer.

Perihal benda yang mengandung tar dan nikotin ini, ada khilaf di antara para ulama: jumhur mengharamkannya secara mutlak (ulama-ulama empat mazhab), sebagian hanya mengharamkan dalam kondisi tertentu. Ada juga yang sebatas memakruhkan, dan sisanya menghukuminya mubah (Nahdlatul Ulama).

Dalam hal ini, penulis mengamini pendapat pertama.

Kapan suatu perkara bisa dikatakan haram?

Jika kita meneliti lebih jauh perkara-perkara yang diharamkan Allah swt., kita akan mendapati perkara tersebut pada hakikatnya juga memiliki manfaat. Khamr, sebagai contoh.

Apa yang dikatakan Al-Quran tentang khamr?

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya..." (QS. Al Baqarah : 219)

Begitulah, Allah –Azza wa Jalla— pun tidak mengingkari bahwa khamr diciptakan dengan memiliki sejumlah manfaat. Akan tetapi, kerugian yang ditimbulkannya lebih besar sehingga lantas Allah mengharamkannya. Dan ini sudah terbukti dalam medis bahwa khamr di samping memabukkan, ia memang memiliki sejumlah manfaat.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan beberapa manfaat khamr:
  • bermanfaat bagi badan;
  • membantu pencernaan;
  • mengeluarkan sisa-sisa makanan;
  • mempertajam pemikiran; 
  • dan sebagainya

Demikian halnya judi, misalnya mendapat uang, melatih ketangkasan, atau mencukupi kebutuhan keluarga. Serta beberapa perkara lain seperti konsumsi babi, onani, dan berpacaran.

Kembali ke rokok. Adakah “racun” yang satu ini punya manfaat? Menurut LiveScience, rokok tidak memiliki manfaat dalam jangka panjang. Bahkan, rokok menyebabkan kanker, empisema, dan gangguan jantung.

Lebih lengkap, HaloSehat –salah satu situs kesehatan otoritas— telah berhasil mengumpulkan 74 dampak buruk rokok bagi kesehatan, akal, dan mental. Seperti misalnya:
  • meningkatkan stroke
  • menganggu aliran darah
  • menyebabkan penyakit paru-paru
  • bau mulut
  • menurunkan kualitas tidur
  • kerusakan tulang dan gigi
  • penyebab diabetes
  • menganggu kehamilan
  • kanker tenggorokan
  • dan 65 item lainnya...

Sekarang, mari beranjak kemudaratan rokok dari perspektif agama. Islam —yang merupakan satu-satunya agama di sisi Allah— melarang keras siapa saja yang melakukan pemborosan.

Allah swt. berfirman, "Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudara-saudaranya setan." (QS Al-Isra: 26—27)

Menurut statistik BBC, 48 juta perokok di Indonesia rata-rata menghabiskan dua belas batang rokok setiap harinya. Rata-rata harga rokok satu bungkus yang isinya dua belas batang adalah Rp20.000.

Dengan kata lain, perokok-perokok ini menghabiskan Rp600.000 per bulannya. Dikalikan setahun, jumlahnya menjadi Rp7.200.000.

Membeli sebuah barang yang kosong akan manfaat serta mengundang kemudaratan, tidakkah ini termasuk pemborosan? Padahal jika mau ditabung, jumlah segitu —insyaallah— cukup untuk kurban dua kambing atau kurban setengah sapi ketika momen Idul Adha datang.

Jika ogah menyumbang uang untuk urusan keagamaan, tak masalah. Uang segitu bisa dibelikan hape, laptop, baju, atau jajan. Yang jelas, tidak dihambur-hamburkan untuk sekadar membeli rokok.

Allah swt. juga tegas melarang hamba-hambanya untuk membunuh dirinya sendiri. Firman Allah swt., “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.“ (QS. An-Nisa: 29)

Rokok terbukti membunuh penggunanya secara perlahan-lahan lewat zat nikotin serta dukungan empat ribu racun lain yang terkandung di dalam rokok. Tak heran, lebih dari seribu orang meninggal setiap harinya karena merokok.

Bukan hanya itu, asap rokok yang menyebar juga mengandung racun yang lebih berbahaya dibandingkan asap polusi. Ini sama saja kita menyakiti orang lain, bukan?

Sementara hal ini dilarang syariat. Sabda Rasulullah saw., “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Baihaqi, Malik, Hakim)

Nah, yang memiliki manfaat tetapi mudaratnya lebih besar saja diharamkan, bagaimana yang tidak?

Inilah manfaat merokok!

Dari awal, penulis tidak pernah mengatakan bahwasanya rokok tidak memiliki manfaat sama sekali. Faktanya, rokok punya sedikit manfaat dalam jangka pendek bagi orang-orang yang menderita atau cenderung pada penyakit tertentu, meski terkesan “receh” dan dipaksa-paksakan.

Seperti misalnya, klaim bahwa rokok dapat mengurangi kemungkinan penyakit parkinson yang sangat jarang terjadi (< 0,1% dari jumlah penduduk dunia). Bahkan, sampai sekarang masih belum diketahui apa kaitan rokok dengan penyakit parkinson.

Kemudian, rokok juga membantu mengurangi obesitas karena nikotinnya. Akan tetapi, jika nikotin ini dikonsumsi secara berlebihan, bukan badan ideal yang didapat, namun kurus kerontang karena sifatnya yang ekstrem dan merusak.

Rokok juga menurunkan risiko operasi sendi lutut. Mengapa? Karena para perokok umumnya jarang jogging atau berolahraga keras, sementara operasi penggantian sendi lutut sendiri terjadi jika kita banyak melakukan aktivitas yang melibatkan kaki dan lutut.

Terakhir, perokok yang mendapat serangan jantung juga memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan non perokok yang mendapat serangan.

Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, hal ini dikarenakan orang yang merokok lebih cepat mendapatkan serangan jantung daripada non perokok, sehingga umur perokok serangan jantung sepuluh tahun lebih muda daripada non perokok.

Tak heran hidupnya lebih lama, sebab umurnya memang lebih muda.

Maka dari itu, jelaslah bahwa hukum rokok adalah haram karena kemudaratannya. Adapun bila ada manfaatnya, tidak akan pernah sebanding dengan dampak buruknya bagi kesehatan, terlebih agama. Allahu’alam.

Rabu, 05 Juli 2017

Ini Doa Berbuka Puasa yang Benar yang Tidak Banyak Orang Tahu

Kebanyakan orang salah ketika membaca doa berbuka puasa

Momen yang paling ditunggu-tunggu kaum muslim yang melaksanakan ibadah saum tentu saja berbuka. Berbuka adalah waktu menyudahi berpuasa dari menahan haus dan lapar, karena di waktu itu umat muslim dibolehkan mengonsumsi makanan dan minuman untuk memulihkan tenaga.

Biasanya, sebelum mulai menyantap hidangan berbuka, beberapa orang terlebih dahulu mengucapkan doa berbuka puasa. Doa yang sangat masyhur diucapkan:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

 "Ya Allah, bagi Engkau aku berpuasa dan dengan rezeki Engkau aku berbuka."

Doa di atas diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Thabarani, dan Ad-Daaruquthuny dalam sunannya. Sanadnya bersambung dari Muhammad bin Ibrahim,  Isma’il bin Amr Al-Bajali, Daud bin Az-Zibriqani, Syu’bah, Tsabit Bunani, sampai Anas bin Malik.

Sekarang, mari lihat komentar para ulama terkait hadis tersebut.

Ia (Daud bin Az-Zibriqani) pendusta -- Al-Jurjaji
Ia (Daud bin Az-Zibriqani) matruk -- Abu Zur'ah
Hadisnya mugaarib (hasan) -- Imam Bukhari
Laisa bisyai'in (lemah) -- Ibnu Ma'an
Ia (Isma’il bin Amr Al-Bajali) dhaif -- Ad-Daruquthni

Intinya, kebanyakan ulama sepakat hadis tersebut bermasalah dari segi sanad. Sehingga tak heran sebagian besar mereka menggolongkan hadis tersebut beserta doanya sebagai dhaif jiddan (lemah sekali).

Yang mengherankan, doa tersebut sering ditambah-tambahi lafaz wa bikaa amantu atau birahmatika ya arhamarrahimin. Padahal, sama sekali tidak ada keterangannya di dalam kitab hadis.

Al-Mulla Ali Al-Qari dalam Mirqatul Mafatih berkata,

"Adapun yang masyhur di lisan masyarakat, allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu maka tambahan wabikaa amantu tidak ada asalnya walaupun secara makna benar. Demikian juga tambahan wa’alaika afthartu wa lishaumi ghadin nawaitu." (Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, 4/1387).

 Lantas, Doa Sebelum Berbuka Puasa Apa yang Sahih?

Jawabannya, tidak ada doa sebelum berbuka puasa. Rasululullah Saw. tidak pernah membaca doa tertentu sebelum beliau berbuka, namun yang dilakukan beliau Saw. adalah berdoa setelah berbuka. Hal ini karena berbuka mestinya disegerakan dan bukan ditunda-tunda. Sabda Rasulullah saw.,

"Senantiasa manusia berbuat kebajikan selama mereka menyegerakan berbuka." (Muttafaqun Alaih)

Dengan demikian, tidak ada doa sebelum berbuka puasa kecuali membaca basmalah sebelum menyantap.

Sekarang, Anda mungkin bertanya-tanya mengenai doa setelah berbuka puasa yang dimaksud. Sayangnya, seperti halnya doa sebelum berbuka, tidak ada doa setelah berbuka puasa yang sahih. Namun, doa ini dinilai hasan dan mayoritas ulama tidak mempermasalahkan penggunaan doa tersebut (ulasannya bisa dibaca di sini).

Di bawah ini lafaz doa berbuka puasa tersebut.


Seperti yang Anda lihat, secara maknawi bacaan doa ini pun dibaca setelah berbuka. Tidak mungkin bukan telah hilang rasa haus atau urat-urat telah basah sementara kita belum meneguk air? Maka dari itu, jika ada yang membaca doa tersebut sebelum berbuka telah menyimpang secara makna.

Allahu'alam.  

Selasa, 16 Mei 2017

Setan-Setan Dirantai, Kok Masih Ada Maksiat di Bulan Ramadhan?


Para pembaca yang dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan istimewa karena di dalamnya pahala kebajikan diganjar berlipat-lipat dari bulan biasa. Maka dari itu, sudah sepantasnya bulan Ramadhan dijadikan sebagai waktu berburu amal kebaikan sebanyak-banyaknya.

Banyak sekali fadhilah (keutamaan) bulan Ramadhan. Di antara keutamaan yang paling dahsyat adalah dibukakannya pintu-pintu kebaikan, ditutupnya pintu-pintu keburukan, serta dibelenggunya setan-setan. Sabda Rasulullah Saw, "Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu" (HR: Bukhari 3277 dan Muslim 1079).

Meski demikian, perihal poin terakhir --dibelenggunya setan-- sering jadi kontroversi --baik di kalangan muslim maupun nonmuslim-- yaitu mengapa masih ada orang-orang yang berbuat maksiat di bulan tersebut sementara setan-setan yang menjadi kunci perbuatan jahat manusia sudah kehilangan eksistensi?

Berangkat dari situ, muncullah berbagai pertanyaan yang tidak didasari ilmu: apakah Rasulullah Saw. berbohong? Apakah hadis di atas daif?

Pertama, mohon digarisbawahi bahwa sabda Rasulullah Saw. tidak lain datangnya dari Allah Swt. Maka dari itu, tidak mungkin Allah salah. Allah Swt. memiliki sifat Mahatahu (Al-Alim) termasuk sesuatu yang bersifat gaib (QS Albaqarah: 29), sedangkan kita tidak tahu. Kita adalah makhluk lemah yang memiliki keterbatasan dalam berpikir.

Kedua, hadis di atas adalah sahih karena periwayatnya adalah duo ahli hadis terkemuka, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Terutama Bukhari, kita tahu bahwa beliau sangat telaten saat memeriksa kesahihan hadis-hadis yang dikumpulkannya. Bahkan, beliau enggan memaktubkan sebuah hadis ke dalam kitab belia u--Sahih Bukhari-- sebelum melakukan salat istikharah yang panjang.

Jadi, ketika menemukan hadis sahih terdapat kejanggalan, camkan ini, "Pikiran saya salah... ilmu saya terbatas." Husnuzon kepada hadis, suuzon kepada diri sendiri.

Sesudah Anda memahami dua hal di atas, sekarang kita kembali ke topik: mengapa masih ada maksiat di bulan Ramadhan sementara setan-setan sudah dibelenggu? Setelah mengumpulkan berbagai pendapat, penulis mendapatkan enam pendapat terpopuler di kalangan ulama. Di bawah ini dijabarkan keenam pendapat tersebut.

Ini Pendapat Para Ulama Tentang Makna "Setan-Setan Dibelenggu"


1. Hanya Mengurangi Efek

Pendapat pertama dan merupakan kebanyakan pegangan para ulama adalah hanya mengurangi efek. Hanya mengurangi efek berarti setan-setan masih dapat mengganggu manusia kendati tidak sebebas ketika dirinya merdeka. Ini adalah pendapat yang dipegang Qadhi Iyadh dan para ulama Malikiyah.

Dalam Syarh Muwatha, Imam Albaji menyatakan, "Setan dibelenggu bisa dipahami bahwa itu bermakna zahir (tekstual). Sehingga dia terhalangi untuk melakukan sejumlah perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukanlah dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau gangguan lainnya."

2. Setan Bukan Satu-Satunya Sumber Maksiat

Kasus pemerkosaan sebagai bukti kejahatan yang didukung hawa nafsu manusia.
Pendapat kedua adalah yang memahami bahwa setan telah hilang eksistensinya di bulan Ramadhan. Sehingga terjadinya maksiat bukan lagi disebabkan perbuatan setan; namun hawa nafsu manusia.

Imam As Sindi ketika membuat catatan untuk An Nasai, menyatakan bahwa "setan dibelenggu" bukan berarti menghilangkan segala bentuk kemaksiatan. Hal ini (maksiat) terjadi karena adanya pengaruh jiwa yang buruk (hawa nafsu). "Kalau semua maksiat datangnya dari setan, berarti ada setan dari setan, dan dari setan itu ada setan lagi, dan seterusnya," ujarnya.

3. Manusia Sudah Berlangganan Dosa

Seperti yang Anda ketahui, dalam satu tahun, hanya sebulan di antaranya adalah bulan Ramadhan. Itu artinya, setan-setan merdeka selama sebelas bulan lamanya. Selama dalam keadaan merdeka tersebut, mereka menggencarkan misinya agar manusia bertindak asusila dan aniaya. Misalnya, menggoda manusia untuk berbuat zina, mabuk, narkoba, meninggalkan salat, gibah, dan lain-lain.

Saking seringnya terbujuk akan rayuan setan, kita jadi senantiasa melakukan perbuatan tersebut sehingga terbentuklah sebuah kebiasaan. Ibaratnya, ibu Anda menyuruh agar selalu merapikan kasur setelah tidur. Lama kelamaan, Anda akan merapikan kasur sendiri tanpa mesti disuruh lagi, bukan? Begitu pula maksiat. Ketika Anda terlalu sering terbujuk rayuan setan, maka di bulan Ramadhan pun Anda akan tetap melakukannya meski tanpa kehadiran setan. Hal ini tidak lain karena perbuatan buruk tersebut telah menjadi kebiasaan.
Sebenarnya, analogi di atas kurang tepat. Anda bisa saja tidak merapikan kasur ketika ibu Anda tidak melihat. Alasannya malas, tidak peduli, atau merasa tidak perlu. Namun lain dengan maksiat. Maksiat biasanya merupakan sesuatu yang menyenangkan sehingga peluang untuk dikerjakan kembali sangat kuat, apalagi untuk orang-orang yang imannya lemah.

4. Tidak Semua Setan Dibelenggu

Ini merupakan pendapat sebagian ulama. Menurut pendapat ini, makna "setan-setan dibelenggu" hanya berlaku bagi setan-setan kelas kakap (maradatul jin), sementara setan-setan lemah dibiarkan bebas berkeliaran (Syabakah Islamiyah no. 40990). Setan-setan inilah yang menjadi dalang perbuatan jahat manusia di bulan Ramadhan.

5. Hanya Berlaku untuk Orang-Orang yang Menjalankan Puasa

Anugerah dibelenggunya setan hanya dapat dirasakan bagi mereka yang beriman serta menjalankan ibadah shaum sesuai tuntunan yang berlaku. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan munafik tidak akan mendapatkan keutamaan tersebut sehingga derajat kemaksiatannya sama saja dengan bulan-bulan biasa.

6. Setan-Setan Dibelenggu Adalah Kiasan

Ada pula segelintir ulama yang memaknai "setan-setan dibelenggu" sebagai kiasan (majaz), yang berarti bukan dibelenggu secara hakiki. Hal ini karena saking mulia, berkah, dan banyaknya ampunan yang diberikana Allah Swt. pada bulan tersebut sehingga setan-setan serasa dibelenggu. Dengan demikian, efek-efek godaan setan menjadi tidak ada. Upaya mereka menyesatkan manusia pun menjadi sia-sia (Imam Albaji dalam Syarh Muthawa).

Menurut Qadi Iyad, seorang pakar tafsir pada zamannya, hadis di atas bisa mempunyai dua makna. "Terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu nereka dan terbelenggunya setan-setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan dan (menunjukkan) mulianya bulan tersebut," terangnya.

Ia melanjutkan, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti berpuasa dan mengerjakan salat malam. Berbeda dengan bulan lain, di bulan Ramadhan orang akan lebih sibuk melakukan kebajikan daripada melakukan kemaksiatan. Sementara, tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”

Jawaban Dr. Zakir Naik

Selain Qadi Iyad dan Imam Albaji, sebenarnya masih ada satu ulama kontemporer yang juga menyetujui pendapat pertama, kedua, dan ketiga. Ialah Zakir Abdul Karim Naik a.k.a Dr. Zakir Naik.

Dr. Zakir Naik ketika ditanya seorang presenter pada sesi tanya jawab terkait permasalahan maksiat di bulan Ramadhan, ia memberikan sebuah analogi sederhana. Seekor singa yang bebas berkeliaran memiliki peluang besar untuk membunuh, tentunya dalam kondisi ini seseorang dalam bahaya. Akan tetapi, saat singa tersebut dirantai, kita akan aman selama menjaga jarak. Namun, tetap saja ketika kita nekat mendekati singa yang telah dirantai, kita pun akan dibunuhnya.

"Hal yang sama juga berlaku di bulan Ramadhan. Jika Anda menjaga jarak dari setan, Anda akan aman," terangnya. Dengan kata lain, setan-setan yang dirantai bukan berarti telah dibunuh, namun memiliki kekuatan yang berkurang. Dalam analogi di atas, kondisi singa yang bebas berkeliaran adalah bulan-bulan biasa. Sementara itu, singa yang dirantai adalah kondisi pada bulan Ramadhan.

Jumat, 25 November 2016

Ghadul Bashar: Memandang yang Diharamkan


Satu di antara fitnah terbesar di dunia ini adalah wanita. Tak heran, banyak kaum Adam yang terjerumus dalam api neraka lantaran tertipu akan fitnah yang satu ini. Agar hal itu tidak terjadi pada Anda, Anda perlu menjaga pandangan. Allah Swt. berfirman dalam kitabnya,

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Al-Nur [24]: 30)

Menjaga pandangan dalam ilmu fikih dinamakan ghadul bashar. Bukan hanya urusan wanita, ghadul bashar merupakan ilmu yang mempelajari hukum menjaga pandangan dalam konteks yang luas dan perinci. Di postingan ini Anda akan mempelajari ghadul bashar dari memandang yang diharamkan, antara lain sebagai berikut.

1. Memandang wanita yang bukan mahramnya

Memandang wanita yang bukan mahram merupakan perbuatan maksiat dan akan mendapat dosa. Hal ini telah menjadi ijmak (kesepakatan) di kalangan ulama; tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, dengan salah satu syariatnya adalah Quran surat Al-Nur ayat 30--31 yang telah dijabarkan barusan.

Ada dua jenis dari memandang wanita yang bukan mahram, yakni memandang yang dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja. Bagaimana jika kita berada di posisi yang kedua? Apakah ikut mendapat dosa? Jawabannya bisa tidak bisa ya. Tidak, jika Anda berhenti pada pandangan pertama. Ya, jika Anda melanjutkan ke pandangan kedua.

Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan pertama (tidak dapat dielakkan) dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir."

Jangan salah kaprah dengan maksud dari pandangan pertama. Ada cerita lucu terkait persoalan ini. Pernah ada seorang muslim yang memandang wanita dalam waktu yang lama. Seorang sahabat pun menegurnya dengan mengutip salah satu sabda Rasulullah Saw., "Pandangan pertama dimaafkan dan yang kedua dilarang." Sambil melanjutkan pandangannya, dengan entang sahabat itu menjawab, "Aku belum menyelesaikan pandangan pertamaku."

Pandangan pertama yang dimaksud adalah pandangan sekilas yang kita tidak dapat menghindar darinya, bukan pandangan yang dibuat-buat atau dilangsungkan dalam waktu yang lama. Jika kita tidak berhenti dari memandang wanita, maka kita masuk dalam kategori sengaja dan akan mendapat dosa.

2. Memandang pria bukan mahram

Jika memandang perempuan bagi laki-laki diharamkan, maka bagi perempuan memandang laki-laki yang bukan mahramnya termasuk diharamkan pula. Allah Swt. berfirman,

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Al-Nur: 31)

3. Melihat perbuatan haram yang dilakukan orang lain

Setiap mukalaf dilarang melihat perbuatan haram yang dilakukan orang lain, kecuali dengan maksud mengingkari dan semisalnya. Setiap orang mukalaf dilarang melihat pemerintah yang zalim; orang-orang yang menyombongkan diri dengan perhiasan mereka disertai para istri dan anak perempuan mereka yang memperlihatkan aurat dan tubuh mereka.

Termasuk diharamkan pula melihat orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam kezaliman tersebut, misalnya para hakim, gubernur, bahkan para ulama sekalipun yang mendekat kepada penguasa zalim, menjilat, atau tidak mau bersuara ketika melihat kezaliman mereka.

Demikian pula diharamkan melihat para peminun arak jika disertai kerelaan atas apa yang mereka perbuat. Diharamkan pula melihat pasangan yang tengah berpacaran-mesra, kecuali dengan niat hendak menegur perbuatan mereka.

4. Melihat aurat orang lain

Di antara hal yang kita harus menundukkan pandangan darinya adalah memandang aurat orang lain, baik yang disertai syahwat maupun tidak; baik yang akan terjadi fitnah maupun tidak; baik sesama jenis maupun lawan jenis.

Sabda Rasulullah Saw., "Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian." (HR: Muslim)

Aurat perempuan yang tidak boleh dilihat laki-laki yaitu seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Sedangkan aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat oleh perempuan yaitu dari pusar hingga lutut.

Sedang aurat perempuan yang tidak boleh dilihat perempuan lain dan aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat laki-laki lain ialah dari pusar hingga lutut, sebagaimana diterangkan dalam hadis nabi. Sementara itu, Ibnu Hazm dan sebagian ulama Maliki berpandapat bahwasanya paha tidak termasuk aurat.

Diakui maupun tidak, menjaga pandangan dari memandang yang diharamkan merupakan persoalan yang sangat sulit. Lebih-lebih di era modern sekarang ini di mana konten-konten yang bersifat "menjual diri" bertebaran serta dapat diakses dengan sentuhan jari. Oleh sebab itu, menjaga pandangan dari sesuatu yang diharamkan merupakan salah satu bentuk jihad dan akan menaikkan derajat kita di sisi Allah Swt. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat keutaam tersebut.