Rabu, 05 Juli 2017

Ini Doa Berbuka Puasa yang Benar yang Tidak Banyak Orang Tahu

Kebanyakan orang salah ketika membaca doa berbuka puasa

Momen yang paling ditunggu-tunggu kaum muslim yang berpuasa tentu saja adalah berbuka. Berbuka adalah waktu menyudahi berpuasa dari menahan haus dan lapar, karena di waktu itu umat muslim dibolehkan mengonsumsi makanan dan minuman untuk mengembalikan tenaganya.

Biasanya, sebelum mulai menyantap hidangan-hidangan di depan mata, beberapa orang terlebih dahulu melantunkan doa berbuka puasa. Doa yang cukup sering diucapkan adalah sebagai berikut.

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

 "Ya Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan rezeki Engkau aku berbuka."

Doa tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Thabarani, dan Ad-Daaruquthuny dalam sunannya. Sanadnya bersambung dari Muhammad bin Ibrahim,  Isma’il bin Amr Al-Bajali, Daud bin Az-Zibriqani, Syu’bah, Tsabit Bunani, dan Anas bin Malik. Sekarang kita lihat komentar para ulama terkait hadis tersebut.

Ia (Daud bin Az-Zibriqani) pendusta -- Al-Jurjaji
Ia (Daud bin Az-Zibriqani) matruk -- Abu Zur'ah
Hadisnya mugaarib (hasan) -- Imam Bukhari
Laisa bisyai'in (lemah) -- Ibnu Ma'an
Ia (Isma’il bin Amr Al-Bajali) dhaif -- Ad-Daruquthni

Intinya, kebanyakan ulama sepakat hadis tersebut bermasalah dari segi sanad. Sehingga tak heran sebagian dari mereka menggolongkan hadis tersebut beserta doanya sebagai dhaif jiddan (lemah sekali).

Bahkan, doa tersebut sering ditambah-tambahi dengan lafaz wa bikaa amantu atau birahmatika ya arhamarrahimin. Padahal, ini sama sekali tidak ada keterangannya di dalam kitab hadis.

Al-Mulla Ali Al-Qari dalam Mirqatul Mafatih berkata,

"Adapun yang masyhur di lisan masyarakat, Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu maka tambahan wabikaa amantu tidak ada asalnya walaupun secara makna benar. Demikian juga tambahan wa’alaika afthartu wa lishaumi ghadin nawaitu" (Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, 4/1387).

 Lantas, Doa Sebelum Berbuka Puasa Apa yang Sahih?

Jawabannya, tidak ada doa sebelum berbuka puasa. Rasululullah Saw. tidak pernah membaca doa sebelum beliau berbuka, namun yang dilakukan Rasulullah Saw. adalah berdoa setelah berbuka. Hal ini karena berbuka harus disegerakan dan bukan ditunda-tunda. Sabda Rasulullah saw.,

"Senantiasa manusia berbuat kebajikan selama mereka menyegerakan berbuka." (Muttafaqun Alaih)

Dengan demikian, tidak ada doa sebelum berbuka puasa kecuali membaca basmalah sebelum menyantap.

Sekarang, Anda mungkin bertanya-tanya mengenai doa setelah berbuka yang sahih. Sayangnya, seperti halnya doa sebelum berbuka, tidak ada doa setelah berbuka yang sahih. Namun, doa ini dinilai hasan dan mayoritas ulama tidak mempermasalahkan penggunaan doa tersebut (ulasannya bisa dibaca di sini).

Berikut lafaz doa berbuka puasa yang dimaksud.


Seperti yang Anda lihat, secara maknawi bacaan doa tersebut pun dibaca setelah berbuka. Tidak mungkin bukan telah hilang rasa haus sementara kita belum meneguk air? Maka dari itu, jika ada yang membaca doa tersebut sebelum berbuka telah menyimpang secara makna.

Wallahu'alam.  

Selasa, 16 Mei 2017

Setan-Setan Dirantai, Kok Masih Ada Maksiat di Bulan Ramadhan?


Para pembaca yang dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan istimewa karena di dalamnya pahala kebajikan diganjar berlipat-lipat dari bulan biasa. Maka dari itu, sudah sepantasnya bulan Ramadhan dijadikan sebagai waktu berburu amal kebaikan sebanyak-banyaknya.

Banyak sekali fadhilah (keutamaan) bulan Ramadhan. Di antara keutamaan yang paling dahsyat adalah dibukakannya pintu-pintu kebaikan, ditutupnya pintu-pintu keburukan, serta dibelenggunya setan-setan. Sabda Rasulullah Saw, "Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu" (HR: Bukhari 3277 dan Muslim 1079).

Meski demikian, perihal poin terakhir --dibelenggunya setan-- sering jadi kontroversi --baik di kalangan muslim maupun nonmuslim-- yaitu mengapa masih ada orang-orang yang berbuat maksiat di bulan tersebut sementara setan-setan yang menjadi kunci perbuatan jahat manusia sudah kehilangan eksistensi?

Berangkat dari situ, muncullah berbagai pertanyaan yang tidak didasari ilmu: apakah Rasulullah Saw. berbohong? Apakah hadis di atas daif?

Pertama, mohon digarisbawahi bahwa sabda Rasulullah Saw. tidak lain datangnya dari Allah Swt. Maka dari itu, tidak mungkin Allah salah. Allah Swt. memiliki sifat Mahatahu (Al-Alim) termasuk sesuatu yang bersifat gaib (QS Albaqarah: 29), sedangkan kita tidak tahu. Kita adalah makhluk lemah yang memiliki keterbatasan dalam berpikir.

Kedua, hadis di atas adalah sahih karena periwayatnya adalah duo ahli hadis terkemuka, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Terutama Bukhari, kita tahu bahwa beliau sangat telaten saat memeriksa kesahihan hadis-hadis yang dikumpulkannya. Bahkan, beliau enggan memaktubkan sebuah hadis ke dalam kitab belia u--Sahih Bukhari-- sebelum melakukan salat istikharah yang panjang.

Jadi, ketika menemukan hadis sahih terdapat kejanggalan, camkan ini, "Pikiran saya salah... ilmu saya terbatas." Husnuzon kepada hadis, suuzon kepada diri sendiri.

Sesudah Anda memahami dua hal di atas, sekarang kita kembali ke topik: mengapa masih ada maksiat di bulan Ramadhan sementara setan-setan sudah dibelenggu? Setelah mengumpulkan berbagai pendapat, penulis mendapatkan enam pendapat terpopuler di kalangan ulama. Di bawah ini dijabarkan keenam pendapat tersebut.

Ini Pendapat Para Ulama Tentang Makna "Setan-Setan Dibelenggu"


1. Hanya Mengurangi Efek

Pendapat pertama dan merupakan kebanyakan pegangan para ulama adalah hanya mengurangi efek. Hanya mengurangi efek berarti setan-setan masih dapat mengganggu manusia kendati tidak sebebas ketika dirinya merdeka. Ini adalah pendapat yang dipegang Qadhi Iyadh dan para ulama Malikiyah.

Dalam Syarh Muwatha, Imam Albaji menyatakan, "Setan dibelenggu bisa dipahami bahwa itu bermakna zahir (tekstual). Sehingga dia terhalangi untuk melakukan sejumlah perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukanlah dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau gangguan lainnya."

2. Setan Bukan Satu-Satunya Sumber Maksiat

Kasus pemerkosaan sebagai bukti kejahatan yang didukung hawa nafsu manusia.
Pendapat kedua adalah yang memahami bahwa setan telah hilang eksistensinya di bulan Ramadhan. Sehingga terjadinya maksiat bukan lagi disebabkan perbuatan setan; namun hawa nafsu manusia.

Imam As Sindi ketika membuat catatan untuk An Nasai, menyatakan bahwa "setan dibelenggu" bukan berarti menghilangkan segala bentuk kemaksiatan. Hal ini (maksiat) terjadi karena adanya pengaruh jiwa yang buruk (hawa nafsu). "Kalau semua maksiat datangnya dari setan, berarti ada setan dari setan, dan dari setan itu ada setan lagi, dan seterusnya," ujarnya.

3. Manusia Sudah Berlangganan Dosa

Seperti yang Anda ketahui, dalam satu tahun, hanya sebulan di antaranya adalah bulan Ramadhan. Itu artinya, setan-setan merdeka selama sebelas bulan lamanya. Selama dalam keadaan merdeka tersebut, mereka menggencarkan misinya agar manusia bertindak asusila dan aniaya. Misalnya, menggoda manusia untuk berbuat zina, mabuk, narkoba, meninggalkan salat, gibah, dan lain-lain.

Saking seringnya terbujuk akan rayuan setan, kita jadi senantiasa melakukan perbuatan tersebut sehingga terbentuklah sebuah kebiasaan. Ibaratnya, ibu Anda menyuruh agar selalu merapikan kasur setelah tidur. Lama kelamaan, Anda akan merapikan kasur sendiri tanpa mesti disuruh lagi, bukan? Begitu pula maksiat. Ketika Anda terlalu sering terbujuk rayuan setan, maka di bulan Ramadhan pun Anda akan tetap melakukannya meski tanpa kehadiran setan. Hal ini tidak lain karena perbuatan buruk tersebut telah menjadi kebiasaan.
Sebenarnya, analogi di atas kurang tepat. Anda bisa saja tidak merapikan kasur ketika ibu Anda tidak melihat. Alasannya malas, tidak peduli, atau merasa tidak perlu. Namun lain dengan maksiat. Maksiat biasanya merupakan sesuatu yang menyenangkan sehingga peluang untuk dikerjakan kembali sangat kuat, apalagi untuk orang-orang yang imannya lemah.

4. Tidak Semua Setan Dibelenggu

Ini merupakan pendapat sebagian ulama. Menurut pendapat ini, makna "setan-setan dibelenggu" hanya berlaku bagi setan-setan kelas kakap (maradatul jin), sementara setan-setan lemah dibiarkan bebas berkeliaran (Syabakah Islamiyah no. 40990). Setan-setan inilah yang menjadi dalang perbuatan jahat manusia di bulan Ramadhan.

5. Hanya Berlaku untuk Orang-Orang yang Menjalankan Puasa

Anugerah dibelenggunya setan hanya dapat dirasakan bagi mereka yang beriman serta menjalankan ibadah shaum sesuai tuntunan yang berlaku. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan munafik tidak akan mendapatkan keutamaan tersebut sehingga derajat kemaksiatannya sama saja dengan bulan-bulan biasa.

6. Setan-Setan Dibelenggu Adalah Kiasan

Ada pula segelintir ulama yang memaknai "setan-setan dibelenggu" sebagai kiasan (majaz), yang berarti bukan dibelenggu secara hakiki. Hal ini karena saking mulia, berkah, dan banyaknya ampunan yang diberikana Allah Swt. pada bulan tersebut sehingga setan-setan serasa dibelenggu. Dengan demikian, efek-efek godaan setan menjadi tidak ada. Upaya mereka menyesatkan manusia pun menjadi sia-sia (Imam Albaji dalam Syarh Muthawa).

Menurut Qadi Iyad, seorang pakar tafsir pada zamannya, hadis di atas bisa mempunyai dua makna. "Terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu nereka dan terbelenggunya setan-setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan dan (menunjukkan) mulianya bulan tersebut," terangnya.

Ia melanjutkan, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti berpuasa dan mengerjakan salat malam. Berbeda dengan bulan lain, di bulan Ramadhan orang akan lebih sibuk melakukan kebajikan daripada melakukan kemaksiatan. Sementara, tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”

Jawaban Dr. Zakir Naik

Selain Qadi Iyad dan Imam Albaji, sebenarnya masih ada satu ulama kontemporer yang juga menyetujui pendapat pertama, kedua, dan ketiga. Ialah Zakir Abdul Karim Naik a.k.a Dr. Zakir Naik.

Dr. Zakir Naik ketika ditanya seorang presenter pada sesi tanya jawab terkait permasalahan maksiat di bulan Ramadhan, ia memberikan sebuah analogi sederhana. Seekor singa yang bebas berkeliaran memiliki peluang besar untuk membunuh, tentunya dalam kondisi ini seseorang dalam bahaya. Akan tetapi, saat singa tersebut dirantai, kita akan aman selama menjaga jarak. Namun, tetap saja ketika kita nekat mendekati singa yang telah dirantai, kita pun akan dibunuhnya.

"Hal yang sama juga berlaku di bulan Ramadhan. Jika Anda menjaga jarak dari setan, Anda akan aman," terangnya. Dengan kata lain, setan-setan yang dirantai bukan berarti telah dibunuh, namun memiliki kekuatan yang berkurang. Dalam analogi di atas, kondisi singa yang bebas berkeliaran adalah bulan-bulan biasa. Sementara itu, singa yang dirantai adalah kondisi pada bulan Ramadhan.

Jumat, 25 November 2016

Ghadul Bashar: Memandang yang Diharamkan


Satu di antara fitnah terbesar di dunia ini adalah wanita. Tak heran, banyak kaum Adam yang terjerumus dalam api neraka lantaran tertipu akan fitnah yang satu ini. Agar hal itu tidak terjadi pada Anda, Anda perlu menjaga pandangan. Allah Swt. berfirman dalam kitabnya,

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Al-Nur [24]: 30)

Menjaga pandangan dalam ilmu fikih dinamakan ghadul bashar. Bukan hanya urusan wanita, ghadul bashar merupakan ilmu yang mempelajari hukum menjaga pandangan dalam konteks yang luas dan perinci. Di postingan ini Anda akan mempelajari ghadul bashar dari memandang yang diharamkan, antara lain sebagai berikut.

1. Memandang wanita yang bukan mahramnya

Memandang wanita yang bukan mahram merupakan perbuatan maksiat dan akan mendapat dosa. Hal ini telah menjadi ijmak (kesepakatan) di kalangan ulama; tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, dengan salah satu syariatnya adalah Quran surat Al-Nur ayat 30--31 yang telah dijabarkan barusan.

Ada dua jenis dari memandang wanita yang bukan mahram, yakni memandang yang dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja. Bagaimana jika kita berada di posisi yang kedua? Apakah ikut mendapat dosa? Jawabannya bisa tidak bisa ya. Tidak, jika Anda berhenti pada pandangan pertama. Ya, jika Anda melanjutkan ke pandangan kedua.

Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan pertama (tidak dapat dielakkan) dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir."

Jangan salah kaprah dengan maksud dari pandangan pertama. Ada cerita lucu terkait persoalan ini. Pernah ada seorang muslim yang memandang wanita dalam waktu yang lama. Seorang sahabat pun menegurnya dengan mengutip salah satu sabda Rasulullah Saw., "Pandangan pertama dimaafkan dan yang kedua dilarang." Sambil melanjutkan pandangannya, dengan entang sahabat itu menjawab, "Aku belum menyelesaikan pandangan pertamaku."

Pandangan pertama yang dimaksud adalah pandangan sekilas yang kita tidak dapat menghindar darinya, bukan pandangan yang dibuat-buat atau dilangsungkan dalam waktu yang lama. Jika kita tidak berhenti dari memandang wanita, maka kita masuk dalam kategori sengaja dan akan mendapat dosa.

2. Memandang pria bukan mahram

Jika memandang perempuan bagi laki-laki diharamkan, maka bagi perempuan memandang laki-laki yang bukan mahramnya termasuk diharamkan pula. Allah Swt. berfirman,

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Al-Nur: 31)

3. Melihat perbuatan haram yang dilakukan orang lain

Setiap mukalaf dilarang melihat perbuatan haram yang dilakukan orang lain, kecuali dengan maksud mengingkari dan semisalnya. Setiap orang mukalaf dilarang melihat pemerintah yang zalim; orang-orang yang menyombongkan diri dengan perhiasan mereka disertai para istri dan anak perempuan mereka yang memperlihatkan aurat dan tubuh mereka.

Termasuk diharamkan pula melihat orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam kezaliman tersebut, misalnya para hakim, gubernur, bahkan para ulama sekalipun yang mendekat kepada penguasa zalim, menjilat, atau tidak mau bersuara ketika melihat kezaliman mereka.

Demikian pula diharamkan melihat para peminun arak jika disertai kerelaan atas apa yang mereka perbuat. Diharamkan pula melihat pasangan yang tengah berpacaran-mesra, kecuali dengan niat hendak menegur perbuatan mereka.

4. Melihat aurat orang lain

Di antara hal yang kita harus menundukkan pandangan darinya adalah memandang aurat orang lain, baik yang disertai syahwat maupun tidak; baik yang akan terjadi fitnah maupun tidak; baik sesama jenis maupun lawan jenis.

Sabda Rasulullah Saw., "Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian." (HR: Muslim)

Aurat perempuan yang tidak boleh dilihat laki-laki yaitu seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Sedangkan aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat oleh perempuan yaitu dari pusar hingga lutut.

Sedang aurat perempuan yang tidak boleh dilihat perempuan lain dan aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat laki-laki lain ialah dari pusar hingga lutut, sebagaimana diterangkan dalam hadis nabi. Sementara itu, Ibnu Hazm dan sebagian ulama Maliki berpandapat bahwasanya paha tidak termasuk aurat.

Diakui maupun tidak, menjaga pandangan dari memandang yang diharamkan merupakan persoalan yang sangat sulit. Lebih-lebih di era modern sekarang ini di mana konten-konten yang bersifat "menjual diri" bertebaran serta dapat diakses dengan sentuhan jari. Oleh sebab itu, menjaga pandangan dari sesuatu yang diharamkan merupakan salah satu bentuk jihad dan akan menaikkan derajat kita di sisi Allah Swt. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat keutaam tersebut.

Minggu, 25 September 2016

Syarat, Adab, dan Tata Cara Melakukan Salat Istisqa; Salat Meminta Hujan


Hujan adalah salah satu sumber penghidupan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi. Misalnya, petani menyandarkan hidupnya pada air hujan untuk mengaliri sawah-sawahnya. Namun di sejumlah daerah--terlebih di Indonesia--sering kali mengalami masa panceklik di mana hujan tidak kunjung turun dalam waktu yang sangat lama.

Hujan sendiri merupakan berkah. Dengan adanya hujan, suasana menjadi lebih segar apalagi seperti di Indonesia yang memiliki iklim tropis, hujan seringkali di nanti-nanti bukan hanya untuk keperluan sehari-hari, melainkan juga untuk mendinginkan suasana.

Lantas bagaimana jika hujan tidak turun? Jawabannya bukanlah memanggil dukun, bisikan "orang pintar", atau apapun yang lain, melainkan melakukan salat istisqa
.
Salat istisqa termasuk ibadah sunah. Ibadah ini hanya boleh dilakukan dengan kondisi-kondisi tertentu. Kondisi-kondisi ini antara lain adalah sebagai berikut.
  • Tidak turun hujan dalam waktu yang sangat lama;
  • Sumber mata air yang biasa digunakan mulai atau sudah mengering akibat tidak turunnya hujan.
Jika kondisi ini terpenuhi, salat istisqa sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Sebaliknya, salat istisqa tidak boleh dilakukan jika sudah ada tanda-tanda mulai turun hujan atau ketika sumber air yang mengering mulai menunjukkan tanda-tanda aliran air kembali.

Untuk melakukan salat istisqa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berupa adab dan tata cara dari salat istisqa itu sendiri. Jangan khawatir jika Anda belum tahu keduanya. Di bawah ini penjelasan singkat mengenai adab dan tata-cara salat istisqa.

Adab-Adab Salat Istisqa

Sama halnya dengan ibadah lain, salat istisqa hendaknya memerhatikan adab-adab. Adab-adab ini penting untuk memaksimalkan terkabulnya tujuan utama kita saat menunaikan salat istisqa yaitu meminta Allah agar menurunkan hujan yang penuh berkah.

Di antara adab-adab saat menunaikan salat istisqa adalah sebagai berikut.

Pertama, salat istisqa dapat dilakukan secara berjemaah maupun sendirian. Hal ini dikarenakan Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah melakukan dua cara salat tersebut.

Kedua, salat istisqa dilakukan di tanah lapang, kecuali ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan salat dilaksanakan di tempat selain itu. Salat hendaknya dilakukan secara khusyuk, dan tiga hari sebelum pelaksanaan salat, hendaknya meninggalkan segala perbuatan buruk maupun makruh yang dapat menghalangi dikabulkannya permintaan seorang hamba kepada Pencipta-nya.

Ketiga, salat istisqa lazim dilakukan pada setiap saat; baik itu pagi, siang, sore, malam, atau waktu-waktu lainnya. Akan tetapi, dilarang melakukan salat istisqa pada waktu-waktu terlarangnya melakukan salat sunah. Misalnya, melakukan salat istisqa sementara belum menggugurkan ibadah wajib seperti salat zuhur, membayar fitrah, maupun ibadah fardu lainnya.

Keempat, salat istisqa lebih utama dilakukan saat matahari mulai terlihat di atas langit. Selain itu, dilarang melakukan salat apabila mulai ada tanda-tanda munculnya hujan yang siap membanjiri negeri.

Tata Cara Salat Istisqa
  1. Salat dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Sebagaimana salat ied, pada rakaat pertama mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali sedangkan pada rakaat kedua takbir sebanyak lima kali. Pada tiap-tiap takbir tersebut membaca subhanallah-walhamdulillah-walailahaillallah-wallahuakbar.
  2. Setelah takbir selesai, dilanjutkan dengan membaca surat Alfatihah serta surat-surat pendek. Jika melaksanakan salat secara berjemaah, kita cukup menyimak bacaan imam saja. Sebaliknya, jika kita melakukannya secara munfarid, disunahkan membaca surat-surat pendek. Di antara surat-surat yang dianjurkan dilantunkan ketika salat istisqa adalah Al-A'la pada rakaat pertama dan Al-Ghasyiyah pada rokaat kedua.
  3. Usai melaksanakan salat istisqa, diteruskan dengan khutbah sebanyak dua sesi (jika salat dilaksanakan berjemaah), sembari memperbanyak doa dan istighfar.
Itulah ulasan terkait syarat, adab, dan tata-cara melakukan salat istisqa. Semoga Allah swt. dengan kuasanya mengarunia hujan yang penuh berkah kepada kita di kala mengalami masa panceklik atau keadaan pelik lainnya.

Jumat, 09 September 2016

Keutamaan Berpuasa Senin Kamis Menurut Islam dan Medis


Berpuasa adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi umat muslim. Puasa sendiri berarti menjaga hawa nafsu dari lapar dan dahaga. Salah satu puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. adalah puasa sunah senin-kamis. Seperti namanya, puasa sunah tersebut dilakukan setiap satu pekan pada hari senin dan kamis.

Puasa senin-kamis sendiri memiliki keutamaan yang tidak dapat Anda temui di amalan-amalan lainnya. Di antara keutamaan puasa senin kamis adalah sebagai berikut.

Menurut Pandangan Islam

Rasulullah saw. bersabda terkait keutamaan berpuasa senin-kamis bagi umat muslim, 

"Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun bakal diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki perselisihan antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, 'akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.'"

Dengan demikian, jika kita berpuasa senin-kamis secara rutin, niscaya amalan kita akan lebih cepat tersampaikan karena pada hari itu pula pintu surga dibuka.

Rasulullah sendiri menjadikan puasa senin-kamis sebagai salah satu amalan favorit. Aisyah pernah berkata (An Nasai no. 2362 dan Ibnu Majah no. 1739) bahwa Rasulullah saw. biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.

Dengan berpuasa senin kamis secara rutin amalan yang kita punya tentunya akan bertambah. Puasa senin kamis juga dapat menjauhkan kita dari hawa nafsu berlebih dan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah swt.

Menurut Pandangan Medis

Puasa senin-kamis tidak hanya mempererat hubungan kita dengan Sang Pencipta, tetapi juga memiliki keutamaan tersendiri bagi tubuh kita. Dr al-Qadhi, Dr. al-Bibabi beserta rekannya di Amerika melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah sukarelawan yang berpuasa di waktu Ramadan. 

Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa puasa memberikan dampak positif terhadap tubuh kita. Di bawah ini merupakan sejumlah manfaat yang kita peroleh saat menjalankan rutinitas puasa di hari Senin dan Kamis atau hari-hari lainnya.

1. Menjaga Kekebalan Tubuh

Manfaat berpuasa secara rutin adalah kekebalan tubuh kita akan meningkat. Dengan berpuasa kenin kamis tubuh kita akan lebih mudah memproduksi sel-sel yang dapat memperkuat daya tahan tubuh untuk menghadapi serangan penyakit. Berpuasa sama halnya kita mengatur pola makan secara teratur, sehingga makanan yang masuk ke dalam tubuh akan lebih terkontrol dan sari-sari makanan akan tersalur dengan baik.

2. Sebagai Detoksifikasi Alami

Menurut Dr. Mehmet Cengiz Oz (dokter ahli bedah jantung) nan terkenal di Amerika, menyatakan bahwa berpuasa adalah cara alami bagi tubuh melakukan detoksifikasi terhadap racun-carun yang ada. Organ-organ yang berperan melakukan detoks racun seperti hati, usus besar, dan ginjal akan bekerja dengan lebih optimal mengolah dan membuang racun dalam tubuh tatkala kita berpuasa.

3. Mengontrol Kadar Gula Darah

Seperti yang mungkin Anda ketahui, terlalu banyak mengonsumsi makanan terutama makanan yang mengandung gula dapat menyebabkan tubuh menyimpan gula darah yang berlebih. Satu di antara keutamaan berpuasa rutin senin kamis adalah mengontrol kelebihan gula darah tersebut.

Dengan berpuasa tubuh kita yang memproduksi hormon insulin yang lebih mudah mengubah gula darah menjadi gula otot (glikogen), sehingga tidak terjadi pengendapan gula darah yang berlebih dalam tubuh yang dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes.

Demikianlah keutamaan berpuasa senin kamis yang dapat diperoleh dari sisi agama dan medis. Berpuasa senin kamis secara rutin tidak hanya memperkuat kerohanian kita, tetapi juga menyehatkan jasmani kita. Maka mulailah berpuasa senin kamis secara rutin!